About

Minggu, 09 Maret 2008

Pencarian jati diri pada kematian

Saya suka datang ke acara kematian. Bukan saya senang akan kesedihan orang atau gimana, tapi ketika even itu berlangsung, saya selalu mendapat peringatan dan pencerahan mengenai hidup. Sampai pada titik itu, saya seperti teringat akan kilas balik kehidupan yang telah saya jalani. Saya jadi selalu disadarkan untuk memperbaiki ibadah karena suatu saat saya akan meninggal dan ga sampe disitu. Saya akan diminta pertanggungjawaban atas waktu yang saya gunakan selama hidup.

Dan saya percaya bahwa jawaban yang tak dapat direkayasa nanti kelak akan menentukan masa depan saya untuk selamanya di alam setelah hidup tersebut.
Datang ke sebuah acara kematian ayah seorang teman, di akhir minggu, dimana sebelumnya saya (seingat saya) tidak pernah bertemu dengan mendiang, saya dihadapkan pada kesedihan yang mendalam. Seluruh keluarga, terutama keluarga inti, tidak bisa tidak menangis.

Akankah kematian saya ditangisi orang ? Seperti apa nantinya kematian saya ? Akankah saat menjelang kematian saya, didekat orang2 yang saya cintai ? Apa yang menyebabkan kematian saya ? Lalu, sesuai dengan syariah Islam, diadakanlah serangkaian peribadahan untuk mengantar jenazah ke liang kubur.

Pencarian jati diri pada pemakaman
Saya senang datang ke tempat pemakaman.
Melihat - lihat berbagai macam bentuk nisan. O iya, ternyata desain makam itu ada trendnya. Makam yang dibuat tahun 70-an berbeda dengan tahun 80-an, 90-an dan sekarang. Cobalah perhatikan.
Lalu melihat nama - nama si almarhum/ah juga merupakan kesenangan tersendiri. Berbagai nama yang diberikan kepada mereka. Seperti makam, penamaan orang juga ternyata ada trendnya.
Coba bandingkan nama orang2 dulu dengan nama2 anak2 dari kakak, teman kita.

Tempat mereka lahir. Di pemakaman, orang datang dari penjuru tempat. Dilahirkan ratusan bahkan ribuan kilometer dari tempat mereka dimakamkan. Dengan berbagai cerita hidup, perjalanan memakan waktu baik cepat maupun lama, sampai akhirnya mereka di jemput oleh malaikat maut. Dan dikubur di sini.

Kemanapun kita pergi, apapun yang kita telah capai, seberapa hebatnya yang telah kita raih, akhirnya yang kita dapat hanyalah sebuah lubang sempit.
Jadi untuk apa menjadi angkuh, arogan, sombong ?

Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

 
© Kematian
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top