About

Sabtu, 16 Februari 2008

Innalillahi wa inna ilayhi rajiun.

Salah satu tetangga depan rumah kos, baru saja meninggal. Tepatnya, tiga hari yang lalu. Ceritanya, ia terserang struk akibat darah tinggi. Padahal orangnya masih muda belia, dan baru saja pulang dari —entah, mungkin kalau tidak salah dengar— Salatiga, menghadiri acara empat puluh hari kerabatnya. Pagi dibawa ke rumah sakit, sorenya ia meninggal dunia.

“Padahal kemarin, ibu baru saja ngobrol dengannya. Ia sangat sehat dan tidak kelihatan sakit sama sekali,” kata ibu dengan suara lemah, bercerita tentang keadaan si mati. Ibu kos juga sempat bercanda dengannya, ketika berbelanja di rumahnya. Kebetulan, sang istri, menjual sayur mayur di rumah. “Beli ini lho bu,” kata ibu menirukan ucapannya ketika memilih sayur mayur.

Sebelum itu, siangnya, saya dipesani untuk tidak pergi ke luar. Jaga rumah. Tidak biasanya seperti itu. Ibu kos dan bapak akan pergi ke Panti Waluyo menjenguk tetangga yang sakit itu. Setelah mendapat telepon dari salah satu kerabat, ia mengajak tetangga depan untuk bersama-sama menengok ke rumah sakit. Kabar itu agak mengejutkan, mengingat orang yang sakit itu kemarinnya masih kelihatan segar bugar.

“Jaga rumah ya,” pinta ibu sebelum berangkat.
Tapi saya tidak bisa. Kemudian disarankan apabila nanti keluar, kuncinya dipinta di titipkan ke rumah depan.
Ines, anak tetangga itu, sudah dipesani bahwa nanti saya akan titip kunci di sana.

Alangkah kagetnya, sore hari, sebuah ambulans datang. Membawa jenazah. Ia meninggal.
Kematian memang sangatlah mudah, bila itu sudah merupakan kehendak-Nya. Orang muda yang sagar bugar pun tidak menghalangi akan datangnya kematian. Maut tidak membutuhkan sesuatu yang rumit. Seribu cara kematian siap menerkam siapa saja. Entah itu musibah kecelakaan, tsunami, dan lain sebaginya. Ia merupakan sebuah bagian ketetapan-Nya yang tidak bisa diganggu gugat.

Kadang kita tidak sadar dengannya. Usia yang belia, kekuatan tubuh yang segar bugar, kondisi bahagia, terkadang menjadikan kita lupa bahwa kematian itu sangatlah mudah, dan siap mendatangi kita kapan saja.

Yang menjadi persoalan mungkin cuma satu: siapkah? Padahal kematian tidak membutuhkan siap tidak siap. Artinya, kapan dan bagaimanapun harus siap menghadapinya. Untuk itulah, sebelum maut menjelang, kita persiapkan diri kita dengan amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Paling tidak, maksiat harus kita hindari secara mutlak.

Maka, saat izrail, sang malaikat maut itu datang, kita sambut ia dengan senyum yang merekah. Kematian adalah proses perpindahan dari alam dunia ke alam lain. Bukan hal yang menakutkan kalau memang sudah banyak mempunyai bekal. Sudah siap?

Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

 
© Kematian
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top